Aku yakin dia tahu tentang perasaan ini, tapi dia berpura-pura tak mengerti, tak peduli, bahkan tak ingin ambil pusing dengan hal yang sudah membuatku gila selama 3 bulan ini. Dia menutup semua celah hatinya agar perasaan ini tak dapat mengusik ketentraman jiwanya. Dia berusaha membunuh perasaan ini dengan cepat. Tak memberikan kesempatan untuk berharap. Mungkin itu memang hal terbaik yang harus dilakukannya. Mungkin dia tak ingin menyakitiku dengan kenyataan yang ada walaupun aku juga tak tahu kenyataan apa yang disembunyikan orang itu. Mungkin dengan mengacuhkanku, perasaan ini akan terhapus oleh kemauanku sendiri sehingga dia tak akan merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku. Tapi ini lebih menyakitkan bagiku. Setidaknya kalau aku tahu kenyataan yang sesungguhnya, aku akan memiliki alasan yang tepat untuk membuang perasaan ini. Aku akan selalu tersadar untuk menghapus bayangannya dari pikiranku. Aku tidak akan mengganggu hatinya lagi. Dia tak membiarkanku tahu apa yang ada di balik pikiran dan hatinya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Mungkin aku harus mundur, toh itu yang diinginkannya. Tapi rasanya sulit untuk menghilangkan perasaan ini secepat itu. Beri aku waktu dan aku tak akan mengganggunya lagi.
Aku menutup telingaku
Rapat
Tak ingin mendengar sedikitpun suara itu
Aku berteriak
Sembunyi
Seakan ada hantu yang mengejarku
Berhenti
Tak ada tempat lagi untuk sembunyi
Aku bodoh
Berlari dari lonceng-lonceng masa lalu
Aku terlalu takut untuk mengingatnya
Apalagi mengulanginya
Aku terlalu lemah
Aku telah mencoba memutus tali-tali lonceng itu
Tapi tak bisa
Lonceng-lonceng itu masih berdentang dengan kerasnya
Masih memenuhi kepalaku, pikiranku, dan jiwaku dengan lagu-lagu masa lalu
Dan aku hanya bisa menutup telingaku
Hingga tak ada angin yang sanggup menggoyangkan lonceng-lonceng itu
Aku suka gerimis
Suara rintiknya selalu terdengar merdu di telingaku
Baunya seakan memenuhi rongga dadaku
Suasana yang ia ciptakan seolah mendekap tubuhku hangat
Aku suka gerimis
Ketika awan mendung menutupi matahari yang genit mengintip di baliknya
Ketika bulirnya jatuh dari pucuk pohon-pohon jati
Tampak berkilau. Indah.
Ketika ia pergi dan meninggalkan coretan-coretan indah di langit bumi
Aku suka gerimis
Karena bersamanya, berkah Sang Pencipta diturunkan ke bumi
Karena bersamanya, kebahagiaan menyelimuti alam semesta
Karena bersamanya, mungkin kamu akan datang kepadaku