In
quotes,
Aku selalu suka dengan orang-orang yang bisa mengubah pena jadi tongkat ajaib seperti Ibu Peri di salah satu sinetron yang kini tak tayang lagi. Istimewa. Merangkai kata yang mati jadi terasa miliki nafas dan denyut nadi sepertiku, seperti kamu, seperti kita, seperti mereka.
Pria yang jadikan pena sebagai senjata 'tuk lumpuhkan hati para wanita. Bagaimana kuharus mengungkapkannya? Tertarik? Sangat. Ada kepolosan yang tertuang pada setiap kata, setiap jeda. Seperti ingin menampar hati para pembacanya, khususnya kaum wanita.
Mereka, orang-orang yang tak pernah tertarik dengan pena, menganggap pria dengan pena hanyalah penggombal dengan kecerdasan setingkat lebih tinggi dari pria lain pada umumnya. Setingkat lebih tinggi karena mereka bisa menuliskan abc dengan pena. Pria yang lain hanya mengucap abc dengan mulutnya yang mungkin sudah kotor oleh dusta yang ikut terucap di sana.
Pria yang menggombal dalam pena, menurutku, lebih jujur. Kamu bisa merasakannya dari pemilihan kata yang mereka tuliskan. Kamu tahu, perlu waktu semalam suntuk hanya untuk membuat satu kalimat yang ingin ia sampaikan kepada orang yang dikasihinya. Dia terlalu takut, terlalu gugup untuk menyampaikan deretan kata tersebut. Pengecut? Pengecut yang terlalu manis, siapa yang tidak menginginkannya? Ah, mungkin hanya aku yang ingin, mungkin kamu tidak.
Jika seorang pria menuliskanmu sebuah kalimat, puisi, prosa, apa pun itu, lalu apakah akan kamu remukan dan buang ke tempat sampah? Terlalu kuno untuk zaman yang katanya sudah globalisasi. Ingat, ada rasa yang terpendam dalam setiap huruf yang ia tuliskan. Jika kamu merasakannya.
ps. tidak untuk setiap pria, tidak untuk setiap tulisan, kamu bisa merasakannya :)
Pria yang jadikan pena sebagai senjata 'tuk lumpuhkan hati para wanita. Bagaimana kuharus mengungkapkannya? Tertarik? Sangat. Ada kepolosan yang tertuang pada setiap kata, setiap jeda. Seperti ingin menampar hati para pembacanya, khususnya kaum wanita.
Mereka, orang-orang yang tak pernah tertarik dengan pena, menganggap pria dengan pena hanyalah penggombal dengan kecerdasan setingkat lebih tinggi dari pria lain pada umumnya. Setingkat lebih tinggi karena mereka bisa menuliskan abc dengan pena. Pria yang lain hanya mengucap abc dengan mulutnya yang mungkin sudah kotor oleh dusta yang ikut terucap di sana.
Pria yang menggombal dalam pena, menurutku, lebih jujur. Kamu bisa merasakannya dari pemilihan kata yang mereka tuliskan. Kamu tahu, perlu waktu semalam suntuk hanya untuk membuat satu kalimat yang ingin ia sampaikan kepada orang yang dikasihinya. Dia terlalu takut, terlalu gugup untuk menyampaikan deretan kata tersebut. Pengecut? Pengecut yang terlalu manis, siapa yang tidak menginginkannya? Ah, mungkin hanya aku yang ingin, mungkin kamu tidak.
Jika seorang pria menuliskanmu sebuah kalimat, puisi, prosa, apa pun itu, lalu apakah akan kamu remukan dan buang ke tempat sampah? Terlalu kuno untuk zaman yang katanya sudah globalisasi. Ingat, ada rasa yang terpendam dalam setiap huruf yang ia tuliskan. Jika kamu merasakannya.
ps. tidak untuk setiap pria, tidak untuk setiap tulisan, kamu bisa merasakannya :)


