In
Puisi,
Bolehkah Lagi?
kemarin aku mengintipmu dari sela-sela jariku
masih saja seperti hari-hari kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi
saat kita masih dalam pekat peluk menghembus karbon dalam pengap yang sama
saat kita masih melengkung senyum sejajar dalam satu garis kata mendekap malu
kamu tersenyum menatapku
sudah lupa sepertinya dengan kejadian dulu
ah.. kamu tak mungkin semudah itu melupakannya
aku begitu membekas di otakmu
kamu memang seperti itu
manis dan polos
hahaha seperti pria tua yang jatuh cinta dengan gadis kecil
kamu gadisnya dan aku pria tua itu
di terik yang lain
aku melihatmu dari balik jeruji pagar besi gedung tua kampus
membatasi kita yang berjarak lebih dari 10 meter
tapi kamu melihatku
melambaikan tangan padaku
rasanya mau pingsan
mereka bilang kamu jelek
seperti kutu buku dalam ftv-ftv pagi
tapi bukankah si kutu buku itu yang selalu menjadi peran utama?
kamu juga
peran utama di hatiku
maaf.. aku tak bisa memegang janjiku
aku tak bisa berhenti mencintaimu
ada sesak ketika tatapku temukanmu
ada yang hilang saat aku tak lagi cium aroma tubuhmu
aku belum menemukannya
pria baik hati yang punya banyak imajinasi yang terkurung dalam tatapnya
bagaimana ini?
aku boleh jatuh cinta lagi kepadamu?
kalau aku bertanya langsung padamu (lagi)
kamu pasti akan bilang boleh
tapi aku terlalu malu untuk mengejarmu lagi
setelah kamu memintaku untuk menghapusnya
setelah kamu bilang kamu ingin meraih mimpimu
aku rindu
memendamnya jauh dalam ruang yang tak terjangkau rasa
tapi tak bisa
kamu hadir lagi tiba-tiba
dan aku belum menemukannya
jadi, bolehkah aku mencintaimu lagi?
masih saja seperti hari-hari kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi
saat kita masih dalam pekat peluk menghembus karbon dalam pengap yang sama
saat kita masih melengkung senyum sejajar dalam satu garis kata mendekap malu
kamu tersenyum menatapku
sudah lupa sepertinya dengan kejadian dulu
ah.. kamu tak mungkin semudah itu melupakannya
aku begitu membekas di otakmu
kamu memang seperti itu
manis dan polos
hahaha seperti pria tua yang jatuh cinta dengan gadis kecil
kamu gadisnya dan aku pria tua itu
di terik yang lain
aku melihatmu dari balik jeruji pagar besi gedung tua kampus
membatasi kita yang berjarak lebih dari 10 meter
tapi kamu melihatku
melambaikan tangan padaku
rasanya mau pingsan
mereka bilang kamu jelek
seperti kutu buku dalam ftv-ftv pagi
tapi bukankah si kutu buku itu yang selalu menjadi peran utama?
kamu juga
peran utama di hatiku
maaf.. aku tak bisa memegang janjiku
aku tak bisa berhenti mencintaimu
ada sesak ketika tatapku temukanmu
ada yang hilang saat aku tak lagi cium aroma tubuhmu
aku belum menemukannya
pria baik hati yang punya banyak imajinasi yang terkurung dalam tatapnya
bagaimana ini?
aku boleh jatuh cinta lagi kepadamu?
kalau aku bertanya langsung padamu (lagi)
kamu pasti akan bilang boleh
tapi aku terlalu malu untuk mengejarmu lagi
setelah kamu memintaku untuk menghapusnya
setelah kamu bilang kamu ingin meraih mimpimu
aku rindu
memendamnya jauh dalam ruang yang tak terjangkau rasa
tapi tak bisa
kamu hadir lagi tiba-tiba
dan aku belum menemukannya
jadi, bolehkah aku mencintaimu lagi?
