Tolong !! Saya Tidak Bisa Jatuh Cinta Lagi
7:27 PM
Hmm.. Saya adalah tipe orang yang mudah sekali jatuh cinta. Sedikit saja menerima perlakuan manis dari lawan jenis, otak saya langsung memerintahkan jantung saya untuk berdetak lebih cepat dan berpikir yang iya-iya (?). Itu memang salah satu sifat buruk saya. Mudah jatuh hati dan akhirnya berujung pada sakit hati. Dan sialnya saya tidak pernah kapok untuk merasakan hal itu lagi, lagi, dan lagi. Jadi, sudah tidak terhitung jumlahnya sakit hati yang saya alami.
Akhir-akhir ini, tepatnya semenjak tingkat 2, sifat saya yang mudah jatuh cinta seolah lenyap tak berbekas. Saya tidak mengerti kenapa. Apakah sakit hati yang terakhir itu begitu melukai hati saya sehingga saya takut jatuh cinta lagi? Rasanya tidak separah itu. Saya pernah merasakan sakit hati yang lebih dari itu, tapi akhirnya tetap kembali ke sifat semula.
Sudah hampir setengah tahun saya tidak merasakan jatuh cinta lagi. Ini terkadang membuat saya takut. Saya takut ga bisa jatuh cinta lagi dan akhirnya hidup dengan kesendirian dan kesepian. Ahh saya tidak mau seperti itu.
Baiklah saya akan menelisik pikiran saya yang membuat saya tidak mudah jatuh cinta lagi.
Umur saya saat ini sudah 19 tahun dan sudah duduk di tingkat 2 sebuah perguruan tinggi. Di kampus saya tercinta, lulusannya cenderung untuk menikah muda, tidak jarang yang menikah segera setelah mereka diwisuda. Pikiran saya pun kini tertuju pada hal tersebut. Artinya pria yang saya cintai itu adalah pria terakhir dan satu-satunya yang akan mengisi hati, pikiran, dan hidup saya. Singkatnya, pria yang akan menjadi pacar saya nanti haruslah menjadi suami saya seumur hidup.
Mencari suami tentunya tidak sama halnya dengan mencari pacar walaupun sebenarnya saya juga kesulitan dalam hal ini. Suami saya nanti haruslah seorang pria yang bisa menjadi imam bagi saya dan anak-anak saya kelak. Pria yang tahu bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi saya. Pria yang tahu bagaimana bersikap di waktu, tempat, dan suasana yang tepat. Pria yang keluarganya sayang kepada saya dan keluarga saya sayang kepadanya.
Intinya suami saya kelak haruslah orang yang bisa membahagiakan saya, orang yang bahagia bersama saya, orang yang bisa membahagiakan orang-orang di sekitar saya dan dia.
Dengan pemikiran seperti itu, saya selalu melihat pria dengan cara seperti ini :
Ya ampun, tuh cowok lucu banget, pinter lagi, tapi kayanya ga bagus buat dijadiin suami -.-"
atau
Ah ganteng, tapi sepertinya ga bisa jadi imam yang baik :/
atau
Ya Allah, Subhannallah, cowok itu sempurna banget, tapi apa pantas ya aku jadi pasangannya??
Akhirnya saya jadi merendahkan pria-pria di sekitar saya atau malah merendahkan diri saya sendiri. Huft. Mungkin itulah yang membuat saya sulit untuk memberikan cinta ke pria-pria tersebut.
Ya Allah, hamba hanya bisa berdoa kepada-Mu. Berikanlah hamba jodoh yang terbaik bagi hamba dunia dan akhirat. Amin.
Akhir-akhir ini, tepatnya semenjak tingkat 2, sifat saya yang mudah jatuh cinta seolah lenyap tak berbekas. Saya tidak mengerti kenapa. Apakah sakit hati yang terakhir itu begitu melukai hati saya sehingga saya takut jatuh cinta lagi? Rasanya tidak separah itu. Saya pernah merasakan sakit hati yang lebih dari itu, tapi akhirnya tetap kembali ke sifat semula.
Sudah hampir setengah tahun saya tidak merasakan jatuh cinta lagi. Ini terkadang membuat saya takut. Saya takut ga bisa jatuh cinta lagi dan akhirnya hidup dengan kesendirian dan kesepian. Ahh saya tidak mau seperti itu.
Baiklah saya akan menelisik pikiran saya yang membuat saya tidak mudah jatuh cinta lagi.
Umur saya saat ini sudah 19 tahun dan sudah duduk di tingkat 2 sebuah perguruan tinggi. Di kampus saya tercinta, lulusannya cenderung untuk menikah muda, tidak jarang yang menikah segera setelah mereka diwisuda. Pikiran saya pun kini tertuju pada hal tersebut. Artinya pria yang saya cintai itu adalah pria terakhir dan satu-satunya yang akan mengisi hati, pikiran, dan hidup saya. Singkatnya, pria yang akan menjadi pacar saya nanti haruslah menjadi suami saya seumur hidup.
Mencari suami tentunya tidak sama halnya dengan mencari pacar walaupun sebenarnya saya juga kesulitan dalam hal ini. Suami saya nanti haruslah seorang pria yang bisa menjadi imam bagi saya dan anak-anak saya kelak. Pria yang tahu bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi saya. Pria yang tahu bagaimana bersikap di waktu, tempat, dan suasana yang tepat. Pria yang keluarganya sayang kepada saya dan keluarga saya sayang kepadanya.
Intinya suami saya kelak haruslah orang yang bisa membahagiakan saya, orang yang bahagia bersama saya, orang yang bisa membahagiakan orang-orang di sekitar saya dan dia.
Dengan pemikiran seperti itu, saya selalu melihat pria dengan cara seperti ini :
Ya ampun, tuh cowok lucu banget, pinter lagi, tapi kayanya ga bagus buat dijadiin suami -.-"
atau
Ah ganteng, tapi sepertinya ga bisa jadi imam yang baik :/
atau
Ya Allah, Subhannallah, cowok itu sempurna banget, tapi apa pantas ya aku jadi pasangannya??
Akhirnya saya jadi merendahkan pria-pria di sekitar saya atau malah merendahkan diri saya sendiri. Huft. Mungkin itulah yang membuat saya sulit untuk memberikan cinta ke pria-pria tersebut.
Ya Allah, hamba hanya bisa berdoa kepada-Mu. Berikanlah hamba jodoh yang terbaik bagi hamba dunia dan akhirat. Amin.


0 comments