Sebuah Surat untuk Seorang Teman

9:21 PM

Dear teman,

Rasanya sedih sekali mendengar kamu tidak bisa kembali lagi ke kampus tercinta ini, tidak bisa melanjutkan mimpi-mimpi para calon birokrat. Memang bukan aku yang mengalaminya, tapi sebagian hatiku rasanya sakit mendengar kabar buruk itu. Kamu memang bukan teman yang paling dekat denganku, teman yang sering bertukar canda dan tawa denganku, tapi kamu tetap temanku.

Kamu adalah teman yang baik. Aku merasa bersalah karena tak bisa membantumu keluar dari jerat kata-kata bernama D-O. Harusnya aku bisa. Kita sering berkelompok, tapi aku tak bisa membantumu meningkatkan angka-angka yang sangat berarti di mata lembaga. Aku hanya bisa menyuruhmu mengerjakan ini itu tanpa membuatmu mengerti maksud tugas itu. Aku kecewa dengan diriku sendiri. 

Aku ingat kamu selalu datang pagi sepertiku, tapi jarang sekali bagi kita untuk saling menyapa saling melempar tanya. Ini salahku, bukan kamu. Kamu yang terlalu pendiam, aku yang seharusnya bisa mencairkan suasana beku di antara kita. Aku hanya diam, mengabaikanmu dan mencari teman yang lain yang kurasa asyik untuk diajak berbicara. Aku bukan teman yang baik.

Kamu orang baik. Orang baik selalu mendapatkan yang terbaik dari Tuhan. Aku percaya itu. Aku yakin Tuhan punya rencana lain yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Kamu termasuk orang-orang pilihan yang dipilih Tuhan untuk menempuh jalan berliku dalam hidupnya. Kenapa? Karena Tuhan yakin kamu mampu menjalani semua likuan tersebut dengan baik tanpa keraguan. Percayalah teman. 

Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk membantumu. Aku hanya bisa berdoa dan berdoa untuk aku, kamu, kita agar bisa menjalani jalan kehidupan untuk mencapai kesuksesan masing-masing. Ahh.. aku ingin menangis. Tapi tolong kamu jangan ikut menangis. Ada semangat yang perlu kamu gali, ada impian yang harus kamu capai. Semangat teman.

Temanmu


*untuk kamu, temanku, yang punya jalan lain untuk meraih mimpi*

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images

Subscribe